Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ. Hadirin yang dirahmati Allah SWT, Pada kesempatan ini, marilah kita membahas tentang shalat khusyuk. Shalat bukan sekadar kewajiban yang kita laksanakan lima kali sehari, tetapi juga sarana untuk mengingat Allah SWT dan mendekatkan diri kepada-Nya. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mu’minun ayat 1–2: قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ Artinya: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya.” Ayat ini menunjukkan betapa pentingnya kekhusyukan dalam shalat. Hadirin yang berbahagia, Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan untuk melatih kekhusyukan dalam shalat. Pertama, mempersiapkan diri sebelum shalat. Sempurnakan wudu, kenakan pakaian yang bersih, dan tenangkan pikiran sebelum berdiri menghadap Allah SWT. Jangan terburu-buru karena masih memikirkan pekerjaan atau urusan dunia. Kedua, memahami bacaan shalat. Berusahalah memahami arti bacaan Al-Fatihah, tasbih ketika rukuk dan sujud, serta doa-doa dalam shalat. Dengan memahami maknanya, kita akan lebih mudah menghayati apa yang kita ucapkan. Ketiga, menjaga tuma’ninah. Laksanakan setiap gerakan dengan tenang, baik ketika rukuk, iktidal, sujud, maupun duduk di antara dua sujud. Jangan tergesa-gesa mengejar selesainya shalat, karena ketenangan merupakan bagian penting dari pelaksanaan shalat yang benar. Keempat, menghadirkan hati ketika shalat. Sadari bahwa kita sedang beribadah dan menghadap Allah SWT. Ketika pikiran mulai melayang ke urusan lain, kembalikan perhatian kita kepada bacaan dan gerakan shalat. Hadirin yang dirahmati Allah, Memang tidak mudah mencapai kekhusyukan. Pikiran tentang pekerjaan, keluarga, masalah ekonomi, dan berbagai urusan dunia sering kali mengganggu konsentrasi kita. Namun, jangan menyerah. Teruslah berlatih, mengurangi hal-hal yang mengganggu, dan memperbaiki kualitas shalat sedikit demi sedikit. Marilah kita mulai dari shalat berikutnya. Laksanakan dengan lebih tenang, pahami bacaannya, sempurnakan gerakannya, dan hadirkan hati ketika menghadap Allah SWT. Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa menjaga shalat dan memperoleh kekhusyukan di dalamnya. Demikian kultum singkat yang dapat saya sampaikan. Semoga bermanfaat bagi kita semua. وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ وَالْهِدَايَةُ، وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Memaknai Maulid Nabi dengan Meneladani Akhlaknya
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. Hadirin yang dirahmati Allah SWT, Alhamdulillah, pada kesempatan ini kita dapat bersama-sama memaknai Maulid Nabi Muhammad ﷺ. Maulid Nabi bukan sekadar mengenang kelahiran Rasulullah ﷺ, tetapi menjadi momentum untuk mengingat kembali perjuangan, ajaran, dan akhlak mulia beliau. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” QS. Al-Ahzab: 21 Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa Rasulullah ﷺ adalah uswatun hasanah, yaitu teladan yang baik. Maka, ketika kita memperingati Maulid Nabi, hendaknya kita tidak hanya memperbanyak shalawat dan mengenang sejarah beliau, tetapi juga berusaha mengikuti akhlaknya. Hadirin yang berbahagia, Rasulullah ﷺ memiliki akhlak yang sangat mulia. Beliau jujur, amanah, penyayang, rendah hati, dan selalu peduli kepada umatnya. Bahkan ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya tentang akhlak Rasulullah ﷺ, beliau menjawab: كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” HR. Muslim Artinya, kehidupan Rasulullah ﷺ merupakan cerminan dari ajaran Al-Qur’an. Karena itu, memaknai Maulid Nabi harus kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika Rasulullah ﷺ mengajarkan kejujuran, maka kita harus jujur. Jika beliau mengajarkan kasih sayang, maka kita harus menyayangi sesama. Jika beliau mengajarkan amanah, maka kita harus menjaga setiap kepercayaan yang diberikan kepada kita. Allah SWT juga berfirman: وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” QS. Al-Qalam: 4 Ayat tersebut menunjukkan betapa mulianya akhlak Rasulullah ﷺ. Hadirin yang dirahmati Allah, Mari kita jadikan Maulid Nabi sebagai momentum untuk memperbaiki diri. Jangan sampai kita hanya merayakan Maulid Nabi secara lahiriah, tetapi akhlak kita belum mencerminkan akhlak Rasulullah ﷺ. Mari kita perbanyak membaca shalawat, mempelajari sunnah beliau, menjaga lisan, menghormati orang tua, menyayangi anak-anak, membantu sesama, dan menjauhi perbuatan yang tidak disukai Allah SWT. Semoga dengan memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ, kecintaan kita kepada Rasulullah semakin bertambah dan kita mampu meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk umat Nabi Muhammad ﷺ yang mendapatkan syafaat beliau dan dikumpulkan bersama beliau di dalam surga Allah SWT. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kultum memaknai peringatan maulid Nabi Muhammad SAW
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ. Hadirin yang dirahmati Allah SWT, Marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita. Pada kesempatan ini, kita akan membahas tentang memaknai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Maulid Nabi merupakan momentum bagi kita untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW, mempelajari perjalanan hidup beliau, serta mengambil pelajaran dari perjuangan dan akhlaknya. Peringatan ini hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi dorongan bagi kita untuk memperbaiki kualitas iman dan perilaku sehari-hari. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 21: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” Hadirin yang berbahagia, Ada tiga hal yang dapat kita jadikan pelajaran dari peringatan Maulid Nabi. Pertama, mengenal perjalanan hidup Rasulullah SAW. Dengan mempelajari sirah Nabi, kita mengetahui perjuangan beliau dalam menyampaikan ajaran Islam, menghadapi berbagai ujian, serta membimbing umat dari kebodohan menuju kehidupan yang berlandaskan tauhid dan akhlak mulia. Kedua, menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW. Kecintaan kepada Nabi tidak cukup hanya diucapkan, tetapi perlu diwujudkan dengan memperbanyak shalawat, mempelajari sunnah, dan mengikuti ajaran beliau. Semakin kita mengenal akhlak dan perjuangan Rasulullah, semestinya semakin tumbuh pula kecintaan kita kepada beliau. Ketiga, meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah SAW mengajarkan kejujuran, amanah, kesabaran, kasih sayang, dan sikap memaafkan. Nilai-nilai tersebut hendaknya kita terapkan di rumah, di tempat kerja, dan di tengah masyarakat. Jangan sampai kita memperingati kelahiran Nabi, tetapi perilaku kita masih jauh dari akhlak yang beliau contohkan. Hadirin yang dirahmati Allah, Mari kita jadikan peringatan Maulid Nabi sebagai momentum untuk memperbaiki diri. Kita perbanyak shalawat, kita pelajari ajaran beliau, dan kita wujudkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Allah SWT menjadikan kita umat yang mencintai Rasulullah SAW, mampu meneladani sunnahnya, serta memperoleh syafaat beliau dengan izin Allah SWT. Demikian kultum singkat yang dapat saya sampaikan. Semoga bermanfaat bagi kita semua. وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ وَالْهِدَايَةُ، وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jangan Hasad Kepada Orang Lain
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. Hadirin yang dirahmati Allah, Marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita. Semoga Allah senantiasa memberikan kita kekuatan untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Pada kesempatan yang singkat ini, izinkan saya menyampaikan kultum dengan tema “Jangan Hasad kepada Orang Lain.” Hadirin yang berbahagia, Hasad adalah perasaan tidak senang ketika melihat orang lain mendapatkan nikmat, keberhasilan, harta, kedudukan, ilmu, kesehatan, atau kebahagiaan. Lebih buruk lagi apabila seseorang berharap agar nikmat yang dimiliki orang lain tersebut hilang. Misalnya, ketika melihat tetangga membeli kendaraan baru, kita merasa tidak senang. Ketika melihat teman mendapatkan pekerjaan yang baik, kita merasa iri. Ketika melihat seseorang usahanya maju, kita justru berharap usahanya gagal. Inilah yang harus kita hindari. Hadirin yang dirahmati Allah, Allah SWT mengingatkan kita agar tidak iri terhadap kelebihan yang Allah berikan kepada orang lain. Allah berfirman: وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.” QS. An-Nisa’: 32 Setiap manusia mendapatkan rezeki dan kelebihan yang berbeda-beda. Ada yang diberikan banyak harta, tetapi mungkin diuji dengan kesehatan. Ada yang diberikan kesehatan, tetapi mungkin tidak memiliki banyak harta. Ada yang memiliki ilmu yang luas. Ada yang memiliki keluarga yang harmonis. Ada yang diberikan kemampuan berdagang. Ada yang diberikan kesempatan untuk membantu banyak orang. Semua itu adalah ketetapan Allah. Karena itu, daripada sibuk membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain, lebih baik kita melihat nikmat yang telah Allah berikan kepada kita dan mensyukurinya. Hadirin yang dirahmati Allah, Rasulullah ﷺ juga mengingatkan kita agar tidak saling hasad. Beliau bersabda: لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا “Janganlah kalian saling hasad, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” HR. Bukhari dan Muslim Hadits ini mengajarkan bahwa hasad dapat merusak hubungan antarsesama. Orang yang hasad biasanya sulit merasa bahagia melihat kebahagiaan orang lain. Padahal, nikmat orang lain tidak mengurangi nikmat yang Allah berikan kepada kita. Rezeki orang lain bukan berarti rezeki kita menjadi berkurang. Kesuksesan orang lain bukan berarti kita menjadi gagal. Kebahagiaan orang lain bukan berarti kebahagiaan kita menjadi hilang. Maka ketika melihat orang lain mendapatkan nikmat, hendaknya kita berkata: مَا شَاءَ اللَّهُ، بَارَكَ اللَّهُ لَهُ “Masya Allah, semoga Allah memberkahinya.” Kemudian kita berdoa agar Allah juga memberikan kepada kita kebaikan dan keberkahan. Hadirin yang berbahagia, Ada satu cara sederhana untuk melawan rasa hasad, yaitu belajar bersyukur. Lihatlah apa yang sudah Allah berikan kepada kita. Kita masih diberi kesehatan. Masih diberi keluarga. Masih diberi kesempatan untuk beribadah. Masih diberi rezeki. Dan yang paling besar, kita masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri dan mendekat kepada Allah. Jangan sampai kita terlalu sibuk melihat apa yang dimiliki orang lain sehingga lupa mensyukuri apa yang sudah kita miliki. Semoga Allah membersihkan hati kita dari sifat hasad, iri, dengki, dan kebencian kepada sesama. Penutup Hadirin yang dirahmati Allah, Demikian kultum singkat yang dapat saya sampaikan. Mari kita belajar menerima ketentuan Allah, mensyukuri nikmat yang kita miliki, dan ikut merasa bahagia ketika melihat saudara kita mendapatkan kebaikan. Karena hati yang bersih akan membuat hidup menjadi lebih tenang, sedangkan hati yang dipenuhi iri dan dengki hanya akan membuat diri sendiri tidak bahagia. Semoga Allah SWT membersihkan hati kita dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang senantiasa bersyukur serta mencintai sesama. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Berbakti Kepada Kedua Orang Tua
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. Hadirin yang dirahmati Allah, Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Pada kesempatan yang singkat ini, izinkan saya menyampaikan kultum dengan tema “Berbakti kepada Orang Tua.” Hadirin yang dirahmati Allah, Orang tua adalah dua manusia yang sangat berjasa dalam kehidupan kita. Sejak kita masih berada dalam kandungan, ibu telah mengandung kita dengan penuh perjuangan. Setelah kita lahir, orang tua merawat, mendidik, menjaga, dan memenuhi kebutuhan kita tanpa mengenal lelah. Karena begitu besarnya jasa orang tua, Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap kewajiban berbakti kepada mereka. Allah SWT berfirman: وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” QS. Al-Isra’: 23 Ayat ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan berbakti kepada orang tua. Setelah Allah memerintahkan manusia untuk menyembah hanya kepada-Nya, Allah langsung memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Hadirin yang berbahagia, Berbakti kepada orang tua tidak harus selalu dengan sesuatu yang besar. Kadang-kadang hal sederhana justru sangat berarti bagi mereka. Berbicara dengan suara yang lembut, membantu pekerjaan mereka, menanyakan kabar, memberikan perhatian, memenuhi kebutuhan mereka, dan mendoakan mereka merupakan bentuk bakti kepada orang tua. Jangan sampai kita justru lebih ramah kepada orang lain daripada kepada orang tua sendiri. Rasulullah ﷺ bersabda: “Keridaan Allah tergantung pada keridaan orang tua, dan kemurkaan Allah tergantung pada kemurkaan orang tua.” HR. Tirmidzi Hadirin yang dirahmati Allah, Hadits ini menjadi pengingat bagi kita bahwa jangan sampai kita menyakiti hati orang tua. Jangan sampai kesibukan, pekerjaan, urusan dunia, atau bahkan keluarga kita sendiri membuat kita melupakan mereka. Terlebih bagi kita yang orang tuanya masih hidup, jangan menunggu mereka sakit atau sudah lanjut usia baru kita memberikan perhatian. Datangilah mereka. Tanyakan kabarnya. Bantu kebutuhannya. Buat mereka tersenyum. Dan jangan lupa mendoakan mereka. Karena kita tidak pernah tahu, sampai kapan Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk bersama orang tua. Bagi yang orang tuanya telah meninggal dunia, bukan berarti bakti kita telah selesai. Kita masih dapat berbakti dengan mendoakan mereka, memohonkan ampun kepada Allah untuk mereka, bersedekah atas nama mereka, dan menjaga hubungan baik dengan keluarga serta sahabat-sahabat mereka. Allah mengajarkan doa yang sangat indah: رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah menyayangiku ketika aku masih kecil.” QS. Al-Isra’: 24 Mudah-mudahan Allah SWT menjadikan kita anak-anak yang berbakti kepada kedua orang tua, memberikan kesehatan dan keberkahan kepada orang tua kita yang masih hidup, serta mengampuni dan merahmati orang tua kita yang telah meninggal dunia. Penutup Hadirin yang dirahmati Allah, Demikian kultum singkat yang dapat saya sampaikan. Semoga apa yang kita dengarkan pada hari ini tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi dapat kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا Ya Allah, ampunilah kami dan kedua orang tua kami. Sayangilah mereka sebagaimana mereka telah menyayangi dan mendidik kami ketika kami masih kecil. Semoga Allah menjadikan kita anak yang senantiasa berbakti kepada kedua orang tua dan mendapatkan ridha-Nya. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
3 Tanda Orang Munafik dalam Hadits Rasulullah
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan untuk terus memperbaiki diri. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman. Hadirin yang dirahmati Allah, Pada kesempatan yang singkat ini, marilah kita bersama-sama mengingat salah satu akhlak yang harus kita waspadai, yaitu sifat kemunafikan. Rasulullah SAW bersabda: آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ Artinya: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara, ia berdusta; apabila berjanji, ia mengingkari; dan apabila dipercaya, ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadirin yang dirahmati Allah, Hadis ini mengajarkan kepada kita tiga hal yang harus kita hindari. Pertama, berdusta ketika berbicara. Islam mengajarkan kita untuk selalu berkata jujur. Jangan sampai kita terbiasa mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan, meskipun menurut kita itu hanya kebohongan kecil. Kebohongan yang terus dilakukan dapat menghilangkan kepercayaan orang lain. Karena itu, marilah kita membiasakan diri berkata benar, baik ketika berbicara dengan keluarga, teman, tetangga maupun dalam pekerjaan. Kedua, mengingkari janji. Janji bukanlah sesuatu yang boleh dianggap sepele. Ketika kita sudah berjanji, hendaknya kita berusaha untuk menepatinya. Kadang kita mudah mengatakan, “Insyaallah saya datang,” “Nanti saya bantu,” atau “Besok saya selesaikan.” Namun ketika waktunya tiba, kita justru lupa atau tidak menepatinya. Jika memang ada halangan, sampaikan dengan baik. Jangan sampai kita menjadi orang yang mudah berjanji tetapi mudah pula mengingkarinya. Ketiga, berkhianat ketika diberi amanah. Amanah tidak hanya berupa uang atau barang. Jabatan adalah amanah. Pekerjaan adalah amanah. Keluarga adalah amanah. Bahkan kepercayaan yang diberikan orang lain kepada kita juga merupakan amanah. Ketika seseorang memberikan kepercayaan kepada kita, maka kita wajib menjaganya dengan sebaik-baiknya. Jangan menggunakan amanah untuk kepentingan pribadi. Jangan mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Dan jangan menyalahgunakan kepercayaan yang telah diberikan kepada kita. Hadirin yang dimuliakan Allah, Yang perlu kita pahami, hadis ini bukan untuk membuat kita sibuk mencari siapa yang munafik di antara orang lain. Justru hadis ini harus menjadi bahan untuk mengoreksi diri kita sendiri. Mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing: Apakah saya masih sering berdusta? Apakah saya masih sering mengingkari janji? Apakah saya sudah benar-benar menjaga amanah? Jika masih ada kekurangan, mari kita perbaiki. Jangan menunggu menjadi sempurna untuk berubah. Selama Allah masih memberikan kita kesempatan hidup, pintu untuk memperbaiki diri selalu terbuka. Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa berkata jujur, menepati janji, menjaga amanah, dan dijauhkan dari sifat-sifat kemunafikan. Demikian kultum singkat yang dapat saya sampaikan. Semoga bermanfaat dan menjadi pengingat bagi kita semua. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kultum Membangun keluarga sakinah
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. Hadirin yang dirahmati Allah SWT, Marilah kita bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat iman, Islam, dan keluarga yang telah dianugerahkan kepada kita. Pada kesempatan ini, kita akan membahas pentingnya membangun keluarga sakinah. Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 21: وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21) Hadirin yang berbahagia, Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam membangun keluarga sakinah. Pertama, memahami hak dan kewajiban suami istri. Suami dan istri memiliki tanggung jawab masing-masing yang harus dilaksanakan dengan penuh amanah. Keluarga akan lebih harmonis apabila keduanya saling menghormati, saling membantu, dan tidak hanya menuntut hak, tetapi juga menunaikan kewajiban. Kedua, menjaga komunikasi dan menyelesaikan konflik dengan baik. Perbedaan pendapat dalam rumah tangga adalah hal yang wajar. Namun, jangan sampai perbedaan tersebut menimbulkan pertengkaran berkepanjangan. Biasakan bermusyawarah, berbicara dengan santun, dan mencari solusi tanpa kekerasan. Ketiga, mengelola ekonomi keluarga secara bertanggung jawab. Keluarga sakinah tidak harus kaya raya. Yang penting adalah mencari rezeki yang halal, mengatur pengeluaran sesuai kemampuan, menghindari pemborosan, serta membiasakan keterbukaan dalam urusan keuangan. Keempat, mendidik anak dan menjaga keluarga di era digital. Orang tua hendaknya memberikan teladan yang baik, membimbing ibadah dan akhlak anak, serta mengawasi penggunaan gawai dan media sosial agar tidak merusak hubungan keluarga. Kelima, membangun keluarga yang religius. Jadikan rumah sebagai tempat tumbuhnya keimanan. Biasakan shalat, membaca Al-Qur’an, berdoa, dan saling menasihati dalam kebaikan. Hadirin yang dirahmati Allah, Keluarga sakinah bukanlah keluarga yang tidak pernah memiliki masalah, melainkan keluarga yang berusaha menghadapi masalah dengan iman, kesabaran, tanggung jawab, komunikasi yang baik, dan kasih sayang. Marilah kita berusaha menjadikan keluarga kita sebagai tempat yang menghadirkan ketenteraman, menumbuhkan kebaikan, serta mendekatkan seluruh anggota keluarga kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT membimbing kita dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ وَالْهِدَايَةُ، وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ